💬
1. Kesimpulan setelah mempelajari modul 2.2, pembelajaran sosial dan emosional menjadi salah satu cara untuk mewujudkan pembelajaran yang berpihak kepada murid. Hal ini mendukung keterampilan sebagai pemimpin pembelajaran karena dalam selain materi pembelajaran, tetapi guru juga harus memperhatikan dan memahami sosial dan emosional para murid.
2. Keterkaitan antar modul:
* Modul 2.2. dengan modul 1.1
Salah satu pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah mewujudkan pembelajaran yang berpusat kepada murid. Materi modul 2.2 ini bisa dikatakan sebagai pembelajaran yang berpihak kepada murid. Contoh pembelajaran yang berpihak kepada murid adalah pelaksanaan pembelajaran sosial emosional. Jadi, selain materi guru juga harus peka terhadap kondisi sosial emosional murid sehingga mereka bisa mengikuti pembelajaran dengan nyaman dan bahagia.
* Modul 2.2. dengan modul 1.2
Dengan memahami dan memiliki nilai dan peran guru penggerak, seorang guru akan lebih mudah dalam penerapan pembelajaran sosial dan emosional. Pengalaman dalam menerapkan pembelajaran sosial dan emosional akan turut mengasah dan meningkatkan nilai dan peran guru penggerak.
* Modul 2.2. dengan modul 1.3.
Untuk mewujudkan visi guru penggerak, salah satu caranya adalah melalui pembelajaran sosial emosional.
* Modul 2.2. dengan modul 1.4.
Pembelajaran sosial dan emosional bisa dilakukan dengan beberapa cara, misalnya dengan pembelajaran eksplisit, integrasi dalam pembelajaran, dan menciptakan iklim kelas dan sekolah. Hal tersebut mendukung budaya positif di sekolah.
* Modul 2.2. dengan modul 2.1.
Dengan mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi dengan pembelajaran sosial dan emosional, guru akan memberikan pembelajaran yang lebih bermakna kepada siswa.
Pengalaman dan pemahaman saya hingga tahap ini,
1. Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa pembelajaran yang baik adalah cukup dengan menyamaratakan perbedaan murid supaya guru bisa fokus mengajar materi sesuai dengan target.
2. Setelah mempelajari modul ini, ternyata dengan menggabungkan pembelajaran berdiferensiasi dengan pembelajaran sosial dan emosional dapat membuat murid bisa lebih siap secara mental, sosial, dan emosional dalam mengikuti pembelajaran.
3. Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being), 3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah:
a. Kompetensi Sosial dan Emosional:
1) Kesadaran diri: kemampuan untuk memahami perasaan, emosi, dan nilai-nilai diri sendiri, dan bagaimana pengaruhnya pada perilaku diri dalam berbagai situasi dan konteks kehidupan.
Contoh kesadaran diri:
- Dapat menggabungkan identitas pribadi dan identitas sosial
- Mengidentifikasi kekuatan/aset diri dan budaya
- Mengidentifikasi emosi-emosi dalam diri
- Menunjukkan integritas dan kejujuran
- Dapat menghubungkan perasaan, pikiran, dan nilai-nilai
- Menguji dan mempertimbangkan prasangka dan bias
- Memupuk efikasi diri
- Memiliki pola pikir bertumbuh
- Mengembangkan minat dan menetapkan arah tujuan hidup
2) Manajemen diri: kemampuan untuk mengelola emosi, pikiran, dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai situasi dan untuk mencapai tujuan dan aspirasi.
Contoh manajemen diri:
- Mengelola emosi diri
- Mengidentifikasi dan menggunakan strategi-strategi pengelolaan stres
- Menunjukkan disiplin dan motivasi diri
- Merancang tujuan pribadi dan bersama
- Menggunakan keterampilan merancang dan mengorganisir
- Memperlihatkan keberanian untuk mengambil inisiatif
- Mendemonstrasikan kendali diri dan dalam kelompok
3) Kesadaran sosial: kemampuan untuk memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain termasuk mereka yang berasal dari latar belakang, budaya, dan konteks yang berbeda-beda.
Contoh kesadaran sosial:
- Mempertimbangkan pandangan/pemikiran orang lain
- Mengakui kemampuan/kekuatan orang lain
- Mendemonstrasikan empati dan rasa welas kasih
- Menunjukkan kepedulian atas perasaan orang lain
- Memahami dan mengekspresikan rasa syukur
- Mengidentifikasi ragam norma sosial, termasuk dengan norma-norma yang menunjukkan ketidakadilan
- Kemampuan berelasi
4) Keterampilan Berelasi: kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan-hubungan yang sehat dan suportif.
Contoh kemampuan berelasi:
- Berkomunikasi dengan efektif
- Mengembangkan relasi/hubungan positif
- Memperlihatkan kompetensi kebudayaan
- Mempraktikkan kerjasama tim dan pemecahan masalah secara kolaboratif
- Dapat melawan tekanan sosial yang negatif
- Menunjukkan sikap kepemimpinan dalam kelompok
- Mencari dan menawarkan bantuan apabila membutuhkan
- Turut membela hak-hak orang lain
5) Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab: kemampuan untuk mengambil pilihan-pilihan membangun yang berdasar atas kepedulian, kapasitas dalam mempertimbangkan standar-standar etis dan rasa aman, dan untuk mengevaluasi manfaat dan konsekuensi dari bermacam-macam tindakan dan perilaku untuk kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, masyarakat, dan kelompok.
Contoh Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab:
- Menunjukkan rasa ingin tahu dan keterbukaan pikiran
- Mengidentifikasi/mengenal solusi dari masalah pribadi dan sosial
- Berlatih membuat keputusan beralasan/masuk akal, setelah menganalisis informasi, data, dan fakta
- Mengantisipasi dan mengevaluasi konsekuensi-konsekuensi dari tindakannya
- Menyadari bahwa keterampilan berpikir kritis sangat berguna baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah
- Merefleksikan peran seseorang dalam memperkenalkan kesejahteraan psikologis (well-being) diri sendiri, keluarga, dan komunitas
- Mengevaluasi dampak/pengaruh dari seseorang, hubungan interpersonal, komunitas, dan kelembagaan
b. Kesadaran Penuh (Mindfulness): kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja/sadar pada kondisi saat sekarang. Dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan yang sebenarnya telah ada dalam diri manusia secara alami tanpa perlu diajarkan ataupun ditumbuhkan.
c. Implementasi Pembelajaran Sosial dan Emosional di Kelas dan Sekolah
1) Pengajaran Eksplisit: memastikan murid memiliki kesempatan yang konsisten untuk menumbuhkan, melatih, dan berefleksi tentang kompetensi sosial dan emosional dengan cara yang sesuai dan terbuka dengan keragaman budaya. Pengajaran eksplisit KSE dapat dilaksanakan dalam bentuk kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Guru dapat menggunakan berbagai projek, acara atau kegiatan sekolah yang rutin untuk mengajarkan kompetensi sosial dan emosional secara eksplisit.
2) Integrasi dalam Praktik Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik: tujuan KSE dapat diintegrasikan ke dalam konten pembelajaran dan strategi pembelajaran pada materi akademik, serta musik, seni, dan pendidikan jasmani.
3) Menciptakan Iklim Kelas dan Budaya Sekolah: melalui praktik guru dan gaya interaksi mereka dengan murid, atau dengan mengubah peraturan dan harapan sekolah.
4. Berkaitan dengan no 2, perubahan yang akan saya terapkan di kelas dan sekolah:
a. Bagi murid-murid: Saya akan mencoba menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang berintegrasi dengan KSE.
b. Bagi rekan sejawat: Saya akan menjadi teladan dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis KSE sehingga rekan sejawat bisa terinspirasi dan turut menerapkannya.
Comments
Post a Comment