Facts (Peristiwa):
Mempelajari modul ini dilakukan melalui eksplorasi konsep yang terbagi menjadi empat Sub Pembelajaran, antara lain: Konsep Coaching secara Umum dan Konsep Coaching dalam Konteks Pendidikan, Paradigma Berpikir dan Prinsip Coaching, Kompetensi Inti Coaching dan TIRTA sebagai Alur Percakapan Coaching, dan Supervisi Akademik dengan Paradigma Berpikir Coaching.
Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Coaching lebih kepada membantu seseorang untuk belajar dan menemukan solusinya secara mandiri.
Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation mendefinisikan coaching sebagai bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Berbagai tugas memberikan pengalaman yang berharga dalam memahami coaching. Tugas Ruang Kolaborasi yang terdiri dari latihan dan praktik coaching memberikan pengalaman yang menarik dalam melakukan coaching serta memberikan pengalaman berperan sebagai coach dan juga berperan sebagai coachee.
Feelings (Perasaan)
Muncul perasaan senang, lega, dan termotivasi untuk melakukan coaching dalam perencanaan, mencari solusi dalam berbagai permasalahan yang saya hadapi mauapun yang dihadapai rekan sejawat di sekolah, berefleksi, dan kalibrasi.
Findings (Pembelajaran)
Supervisi akademik dilakukan untuk memastikan pembelajaran yang berpihak pada murid dan untuk pengembangan kompetensi diri dalam setiap pendidik di sekolah. Dalam relasi guru dengan guru, seorang coach dapat membantu seorang coachee untuk menemukan kekuatan dirinya dalam pembelajaran. Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan.
Paradigma berpikir coaching terdiri dari fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan, bersikap terbuka dan ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, mampu melihat peluang baru dan masa depan. Prinsip coaching yaitu kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi. Kompetensi inti coaching meliputi kehadiran penuh, mendengarkan aktif, mengajukan pertanyaan berbobot. Percakapan berbasis coaching dengan alur TIRTA merupakan percakapan untuk perencanaan, untuk pemecahan masalah, untuk berefleksi, dan untuk kalibrasi.
Umpan balik berbasis coaching terdiri dari umpan balik dengan pertanyaan reflektif dan umpan balik menggunakan data yang valid.
Supervisi akademik merupakan serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memberikan dampak secara langsung pada guru dan kegiatan pembelajaran mereka di kelas. Dalam pelaksanaannya ada dua paradigma utama yang menjadi landasan dalam menjalankan proses supervisi akademik yang memberdayakan, yakni paradigma pengembangan kompetensi yang berkelanjutan dan optimalisasi potensi setiap individu.
Future (Penerapan):
Mempraktikkan tiga kompetensi inti coaching, presence, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching. Membuat rencana, melakukan refleksi, memecahkan masalah, dan melakukan kalibrasi. Memberikan umpan balik dengan paradigma berpikir dan prinsip coaching. Mempraktikkan rangkaian supervisi akademik yang berdasarkan paradigma berpikir coaching. Dan selalu berusaha mingkatkan kemampuan diri dalam melakukan coaching dengan berlatih dan sering malakukan praktik coaching dengan rekan sejawat dan murid.
Comments
Post a Comment