Pembelajaran Berdiferensiasi
Oleh : Ardy Iswahyudi K.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru yang berpusat kepada kebutuhan murid.
Pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan dengan langkah-langkah, antara lain:
- Merumuskan tujuan pembelajaran
- Memetakan kebutuhan belajar berdasarkan kesiapan belajar, minat, dan profil murid.
- Menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan positif
- Melakukan penilaian yang berkelanjutan / on going assessment
- Melakukan diferensiasi konten, produk, dan proses
Pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal karena pembelajaran berdiferensiasi berpihak pada murid, menciptakan lingkungan belajar yang positif, kolaboratif dan saling menghargai. Selain itu, juga karena didasari oleh kebutuhan murid meliputi kesiapan belajar, minat, dan profil belajar murid.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi ada tiga strategi pembelajaran berdiferensiasi yaitu
- Diferensiasi Konten: mendiferensiasikan materi pembelajaran kepada murid berdasarkan kebutuhan, dilihat dari kesiapan belajar murid apakah secara konkret atau abstrak, minat belajar murid dengan mempersiapkan topik atau materi sesuai minat siswa, profil belajar siswa sesuai gaya belajar, audio, visual, atau kinestetik.
- Diferensiasi Proses: Usaha untuk membantu murid memahami materi pembelajaran dengan memberi beberapa kegiatan sesuai dengan kebutuhan murid
- Diferensiasi Produk: Produk berupa hasil yang diharapkan dari murid setelah proses pembelajaran, baik berupa hasil tes, presentasi atau diskusi, pertunjukkan, pidato, diagram dan lainnya yang mencerminkan pemahaman murid dari tujuan yang diharapkan dalam pembelajaran.
Dalam pembelajaran berdiferensiasi terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan murid yaitu dari kesiapan belajar murid (lambat/cepat, konkret/abstrak, mandiri/perlu bantuan, minat murid, profil belajar murid yang meliputi gaya belajar, latar belakang, dan kecerdasan).
Kesiapan belajar murid adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru dari yang bersifat mendasar menuju bersifat transformatif, konkret ke abstrak, sederhana ke kompleks, terstruktur ke terbuka, tergantung kemandirian, dan lambat menjadi cepat.
Minat belajar merupakan mencari adanya kecocokkan antara minat murid dengan tujuan pembelajaran, mengkoneksikan antar materi pembelajaran, menjembatani pengetahuan awal dengan pengetahuan baru, dan yang memungkinkan tumbuhnya motivasi murid untuk belajar.
Dalam profil belajar murid maka perlu mengidentifikasi lingkungan belajar, misalnya terkait dengan suhu ruangan, tingkat kebisingan, jumlah cahaya, kemudian pengaruh budaya dari santai menjadi terstruktur, pendiam ke ekspresif, personal ke impersonal, gaya belajar murid juga dengan mengidentifikasi yaitu bisa visual (belajar dengan melihat), auditori (belajar dengan mendengarkan), kinestetik (belajar sambil melakukan), kecerdasan majemuk (multiple intelegences), visual ke spasial, musical bodily kinestetik, matematika logika.
Kaitan antar materi dengan modul sebelumnya:
Filosofi pendidikan KHD pembelajaran berdiferensiasi dapat mewujudkan Merdeka Belajar. Berdasarkan pemikiran KHD pendidikan adalah menuntun anak sesuai kodrat alam dan zaman dengan berpihak pada anak sesuai perkembangan minat, bakat dan potensi anak. Hal ini berkaitan erat dengan pembelajaran berdiferensiasi yang bertujuan memberikan pembelajaran kepada anak dengan cara memetakan kebutuhan murid sesuai kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar anak.
Kaitan dengan Nilai dan peran Guru penggerak bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat mewujudkan Merdeka Belajar apabila guru penggerak telah memiliki nilai guru penggerak dan menerapkan peran guru penggerak. Nilai guru penggerak meliputi : mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, berpihak pada murid. Dan peran guru penggerak meliputi menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, dan mewujudkan kepemimpinan murid.
Kaitan dengan visi guru penggerak, seorang guru penggerak tentunya memiliki visi untuk mewujudkan merdeka belajar yang sesuai profil pelajar Pancasila, dengan melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada anak yang selaras dengan pembelajaran berdiferensiasi menyesuaikan kebutuhan belajar anak berdasarkan kesiapan belajar, minat dan profil belajar murid.
Untuk menciptakan pembelajaran berdiferensiasi guru penggerak harus mampu berkolaborasi dan mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki oleh sekolah sehingga mampu mendukung terwujudnya visi dan mendukung perkembangan murid berdasarkan pemetaan kebutuhan murid.
Kaitan dengan pudaya positif, budaya positif adalah perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Lingkungan belajar yang mendukung diferensiasi dibangun dengan menerapkan budaya positif yaitu :
- Komunitas belajar setiap murid di dalam kelas akan menyambut dan merasa disambut oleh murid lain.
- Saling menghargai di dalam kelas dan sekolah
- Murid merasa aman dan membentuk murid yang berani dalam menyampaikan pendapat
- Ada harapan bagi pertumbuhan yang ditunjukkan murid.
- Guru mengajak murid untuk mencapai kesuksesan, pengalaman belajar mendorong murid lebih cepat, sedikit melampaui apa yang telah dikuasainya, guru memberikan dukungan sehingga murid tidak merasa frustasi tetapi mencapai kesuksesan.
- Semua murid berhak mendapatkan perlakuan yang sama di dalam kelas.
- Guru berkolaborasi dengan murid untuk mencapai pertumbuhan dan kesuksesan bersama, adanya tanggung jawab masing-masing agar pembentukan dan tercipta kelas yang efektif, dalam rangka mengembangkan lingkungan belajar yang positif.
Comments
Post a Comment