- Buatlah sebuah kesimpulan mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, serta Visi Guru Penggerak.
- Pada modul 1.1., Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Setiap anak lahir dengan berbagai kodrat dasarnya seperti potensi, bakat dan minat, selain itu pertumbuhan dan perkembangan anak juga dipengaruhi oleh kodrat keadaan seperti kodrat alam dan kodrat zamannya masing-masing sehingga seorang guru sebaiknya dapat memahami hal tersebut dengan sebaik-baiknya. Kodrat alam dan kodrat zaman sangatlah sesuai karena saat ini perkembangan Teknologi Informasi begitu cepat sehingga sumber ilmu bisa didapat dari mana saja. Salah satu tugas guru adalah sebagai penuntun bagi muridnya untuk dapat menggali potensi yang ada pada dirinya, menumbuh kembangkan bakat minat sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamanya masing-masing.
- Pada modul 1.2, mempelajari bagaimana karakter baik anak berkembang melalui pembiasaan sesuai teori Gunung Es. Di sinilah peran orang tua dan guru dalam mewujudkan karakter baik anak, yaitu dengan cara menciptakan budaya positif di lingkungan rumah dan sekolah. Semua warga sekolah harus bekerja sama dengan baik dalam rangka mewujudkan budaya positif.
- Pada modul 1.3, membahas tentang visi guru penggerak. Karena pembelajaran yang baik harus berpihak pada murid, maka guru harus dapat memahami bakat, minat dan kebutuhan yang dimiliki murid. Selain itu juga, guru harus mampu bekerja sama dengan pemangku kebijakan di sekolah untuk mewujudkan visi guru dan visi sekolah dengan salah satu strateginya yaitu mewujudkan budaya positif di sekolah. Untuk itu guru perlu membuat prakarsa perubahan untuk mewujudkan visi tersebut, dan berkolaborasi untuk melaksanakannya.
- Pada Modul 1.4. pemahaman bagaimana cara menciptakan budaya positif di sekolah saya. Hukuman terhadap siswa yang melakukan pelanggaran sudah biasa dilakukan sejak dulu. Tetapi, setelah mempelajari modul 1.4. penerapkan pemahaman dari modul 1,1 sampai 1.4 sebaiknya dilakukan oleh guru dalam pembelajaran di kelas maupun di luar kelas dalam rangka pembentukan budaya positif.
- Keterkaitan antara modul 1.1 sampai modul 1.4 yang saya pahami adalah guru harus berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid dengan cara menuntun murid-murid untuk dapat menggali potensi-potensi terpendamnya supaya mereka mampu menemukan dan mengembangkan bakat minat yang dimilikinya. Selain itu, guru juga sebaiknya menerapkan segitiga restitusi dalam menghadapi permasalahan yang muncul pada murid-murid karena segitiga restitusi mengarahkan murid untuk memahami permasalahannya dan mengatasi masalahnya secara mandiri sesuai dengan keyakinan kelas yang telah disepakati. Pada modul 1.4, banyak hal tentang budaya positif yang telah saya dapat.
- Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?
- Disiplin merupakan sesuatu hal yang perlu ditanamkan pada diri setiap individu. Dalam mendidik anak ada nilai-nilai yang harus diterapkan dalam menciptakan budaya positif. Pada bab posisi kontrol guru, ada lima posisi kontrol yang perlu diterapkan guru sebagai seorang pimpinan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut antara lain penghukum, pembuat rasa bersalah, teman, pemantau, dan manajer. Secara umum, guru selama ini ada pada posisi penghukum sampai pemantau. Tentunya hal ini bertentangan dengan Ki Hajar Dewantara yang berfilosofi pembelajaran bahwa kita harus bisa memanusiakan manusia dan menuntun kodrat anak sesuai dengan zamannya. Dalam melayani murid, kita sebagai guru harus bisa berada pada posisi manager. Ada langkah dan tahapan yang harus kita lakukan dalam mendidik murid terkait dengan kesalahan yang telah mereka lakukan.
- Hal tak terduga lainnya, yaitu terkait keyakinan kelas. Keyakinan kelas merupakan suatu kesepakatan yang tidak tertulis namun dapat dipahami oleh semua murid yang wajib dipatuhi tanpa perlu ada dorongan dari luar tetapi muncul pada dari diri murid itu sendiri. Pada bab segitiga restitusi kita diajarkan menyelesaikan kasus yang biasa terjadi di sekolah dengan tahapan antara lain menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan.
- Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
- Dari materi yang sudah diberikan, saya berpendapat bahwa untuk menciptakan budaya positif di kelas maupun di sekolah harus melibatkan murid dalam perencanaan sampai pelaksanakan budaya positif dengan harapan mewujudkan kelas atau sekolah yang aman dan nyaman berdasarkan keyakinan kelas atau sekolah yang diyakini bersama.
- Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?
- Pengalaman saya terkait penerapan budaya positif adalah muncul keinginan untuk menyelesaikan permasalahan pelanggaran yang dilakukan oleh murid dengan cara meletakkan posisi saya sebagai manajer. Hal ini untuk merubah kebiasaan dan budaya yang selama ini masih ada dalam menerapkan kedisiplinan pada murid.
- Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?
- Perasaan saya selama ini ketika mengalami hal-hal tersebut adalah saya lebih tergerak untuk menerapkan posisi guru sebagai manajer dan melakukan konsep segitiga restitusi dalam menyelesaikan permasalahan kedisiplinan murid. Karena dengan hal tersebut dapat melatih murid mempertanggungjawabkan perilakunya dan menemukan solusi atas permasalahannya secara mandiri.
- Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?
- Menurut saya, sekolah kami sudah menerapkan budaya positif seperti kegiatan sholat berjamaah dan hal-hal kolaboratif lain yang dapat membentuk karakter budaya positif. Hal lain yang perlu dikembangkan lebih lanjut adalah sosialisasi nilai kebajikan yang harus dimiliki setiap anak dan keyakinan kelas karena masih banyak guru dan murid yang belum memahami hal ini. Kemudian memperbaiki posisi kontrol yang selama ini masih berada pada posisi penghukum sampai pemantau. Saya berharap guru-guru bisa berada di posisi sebagai manager dalam menyelesaikan masalah pada murid.
- Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?
- Sebelumnya guru lebih banyak pada posisi kontrol sebagai penghukum sampai pemantau dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul pada murid. Waktu itu, secara umum guru-guru beranggapan bahwa tindakan tersebut sudah baik walaupun hasil yang diharapkan kadang berhasil kadang gagal. Dengan modul 1.4, penggunaan posisi kontrol sebagai manajer dengan menerapkan segitiga restitusi dapat memberikan tanggapan dan hasil yang dirasakan murid. Karena dengan menerapkan segitiga restitusi, murid lebih menunjukan rasa tanggung jawab yang lebih baik dan dapat memperbaiki kesalahan secara mandiri.
- Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?
- Sebelum mempelajari modul 1.4 ini, secara umum segitiga restitusi belum pernah dilakukan sesuai urutan dalam konsep tersebut. Segitiga restitusi dilakukan secara otodidak tanpa mengetahui konsep sebelumnya sehingga dilakukan tidak secara urut dan benar. Terkadang jika buru-buru dilakukan secara singkat.
- Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
- Selain konsep-konsep dalam modul 1.4, budaya positif juga berkaitan erat dengan nilai dan peran guru penggerak yaitu sebagai pemimpin pembelajaran dan mewujudkan kepemimpinan murid. Melalui keyakinan kelas guru dapat menciptakan lingkungan yang menyenangkan dalam belajar. Karena keyakinan kelas dibuat dan disepakati bersama oleh seluruh warga kelas. Keyakinan kelas akan membuat siswa merasa nyaman daripada hanya sekedar peraturan kelas. Dengan menciptakan budaya positif melalui keyakinan kelas dan segitiga restitusi, dapat mendidik siswa untuk mandiri dan bertanggung jawab dalam mengatasi masalahnya.
- Setelah membuat koneksi antar materi, Anda juga diminta untuk menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah dengan mengisi Tabel Rancangan Tindakan Aksi Nyata:

Comments
Post a Comment